Hidup memang penuh misteri. Penuh dengan hal-hal yang mengejutkan nan menakjubkan. Banyak rahasia kehidupan yang awalnya tidak terpikir. Alaah, mau ngomong apa sih, ribet amat, nggak nyambung blas ama judul.
He he.
Begini Bunda, kala malam tiba, kala anak-anak sudah berangkat menuju pulau kapuk, saat itu … apakah badan Bunda sudah amat sangat payah? Apakah serasa sudah tidak ada tenaga lagi untuk melakukan apa pun hatta sekadar membaca satu halaman? Badan terasa remuk redam, mata sudah tak mampu lagi dibuka, duuhh, bahkan sampai bangun tidur pun terkadang masih terasa lelahnya. Benarkah aktivitas menjadi ibu rumah tangga sedemikian melelahkannya?
Yuk, saya ajak menikmati pemikirannya Dale Carnegie dalam bukunya ‘How To Enjoy Your Life And Your Job’, yang diterjemahkan menjadi: Petunjuk Menikmati Hidup dan Pekerjaan Anda.
Ada kalimat yang patut direnungkan, Bunda:
“Kelelahan kita kerapkali tidak disebabkan oleh pekerjaan kita, tetapi oleh perasaan cemas, frustasi dan sentimen.”
Lha kok? Apa benar begitu?
Saya kira memang benar demikian, Bunda. Saya heran. Dulu waktu masih tiga anak, hampir setiap ngeloni anak ketiga, saya ikutan tidur. Pokoknya badan rasanya sudah tidak karuan. Eeh, sekarang udah 4, malah masih kuat melek bahkan membaca dan menulis setelah semua anak tidur.
Apa rahasianya?
Ikuti cuplikan berikutnya ya
“Tekanan darah pada tubuh dan konsumsi oksigen menurun kalau orang bosan, dan keseluruhan metabolisme lancar demikian orang mulai menaruh minat dan kesenangan atas pekerjaan mereka.”
Ya, mungkin itulah yang terjadi pada saya. Tambah anak, tambah semangat. Soalnya nggak bosen. Kan 4 anak berarti 4 macam perilaku. Hi hi, lucu-lucu. Perilaku anak yang satu bikin bĂȘte, pindahkan perhatian ke yang satunya. Trus, saya kan hobinya cerita. Nah, semakin banyak anak, semakin banyak yang bisa diceritakan (lewat lisan maupun tulisan) ke orang lain. Makin banyak anak, semakin banyak kesempatan mempraktekkan ilmu-ilmu parenting, semakin banyak peluang melakukan improvisasi. Saat anak terjaga adalah waktunya mempraktekkan apa yang ditulis, dan saat anak tidur adalah waktunya menulis apa-apa yang sudah dipraktekkan. Sangat menyenangkan! Saya harus serius melakukannya, serius tapi tidak dengan muka tegang, seriusnya sambil senyum-senyum seneng. Serius ngapain sih? Serius dalam mendidik anak, serius mengamati anak-anak, serius dalam menuliskan hasil praktek dan pengamatan, juga hasil renung-merenung seharian. Buat apa? Yaa … merintis jalan jadi pakar parenting dong. He he. Soalnya gemes aja, karena selama ini yang aktif menulis tentang parenting adalah mereka yang tidak mengasuh anak secara fulltime. Lah, kebanyakan pakar parenting kan bapak-bapak tho? He he. Oh iya, saking rumitnya ilmu kerumahtanggaan (terkait dengan komunikasi, ilmu gizi, kuliner, perencanaan keuangan, dll), saya jadi kepikiran untuk mengusulkan mata kuliah kerumahtanggaan yang bisa diambil oleh para mahasiswi yang berminat (mata kuliah pilihan). Biar ibu-ibu masa depan itu bisa punya kesiapan yang lebih baik gitu loh. Semoga kapan-kapan saya bisa menuliskan secara lebih detail ide saya tersebut, agar bisa dipikirkan lebih lanjut oleh ahlinya (Halo ibu-ibu dosen--terutama yang lagi ‘banting stir’ jadi ibu rumah tangga fulltime, siap-siap mikir dari sekarang ya)
Kata Dale Carnegie: “Kalau Anda mempunyai minat, maka energi pun akan bangkit.”
Believe or not, karena semangat untuk bisa selalu berbagi--padahal berbagi itu sebenarnya salah satu trik untuk menguatkan diri sendiri juga—baca bukunya jadi lebih rajin lho. Dan, subhanallah, saya merasa ajaib dengan daya serap terhadap isi buku yang terasa meningkat. Hi hi, ketahuan kalo dulu oon. Yaa, sampai sekarang juga belum pinter sih, cumaa … lumayan terasa lebih baik gitu deh. Bayangin, seharian ngurus 4 krucil, gantiaaan aja minta pelayanan. Setelah mereka semua lelap trus baca buku, kok materinya masih bisa masuk? Kok buat nulis badannya masih kuat? Kok nggak ngantuk atau capek? Semua memang anugerah Allah, tapi ternyata kalo mau dilogika … ya mungkin seperti yang diungkapkan Carnegie di atas. Juga yang di bawah ini:
“Otak dapat bekerja sama baiknya entah pada saat memulai maupun pada akhir kerja delapan jam, atau bahkan 12 jam tanpa berhenti! Karena otak tidak mengenal kata capek. Para ahli psikiatri menyatakan bahwa sebagian besar kelelahan kita itu disebabkan oleh sikap mental dan emosional kita sendiri.”
Yaa, seharian di rumah, menjadi aktivis dapur-sumur-kasur, aktivitasnya ya relatif itu-itu saja, kalau nggak disiasati, pasti terperangkap dengan yang namanya jurang kebosanan. Eh, ada cerita menarik lho di buku itu terkait dengan pekerjaan yang membosankan.
Harlan A Howard, punya pekerjaan yang membosankan: mencuci piring, membersihkan meja dan mengambili tempat es krim. Karena memang harus berkecimpung di situ, ia memutuskan untuk mempelajari es krim—bagaimana pembuatannya, bahan apa yang dipakai, kenapa merk ini lebih baik dari merk lain. Ia mempelajari kimia es krim dan menjadi jago dalam pelajaran kimia di SMA, kemudian berlanjut sangat tertarik pada kimia makanan, hingga akhirnya memenangkan makalah terbaik tentang penggunaan coklat (hadiahnya seratus dollar), selanjutnya dia membuka laboratorium swasta di dasar rumahnya, lantas mendapat pekerjaan dari 14 perusahaan di Amherst untuk menghitung bakteri pada susu.
Itu si Howard. Kalo ibu rumah tangga, trik biar nggak bosan gimana?
Kali ini saya cuplikkan dari blognya seorang ibu:
“Untuk rencana hari ini, dalam buku agenda tertulis: Membuat purchase order, meeting supplier, incoming inspection... Dan beberapa jadwal lainnya. Bukan,saya bukan karyawati kantoran. Saya hanya seorang isteri dengan profesi ibu rumah tangga. Rencana yang saya buat di atas pun sesungguhnya adalah agenda biasa berupa jadwal harian rumah tangga. Saya ibaratkan membuat daftar belanja kebutuhan sehari-hari dengan membuat purchase order; acara pergi ke pasar, supermarket, ataupun toserba saya istilahkan dengan meeting supplier; sedangkan incoming inspection adalah istilah untuk rapi-rapi rumah. Semua saya lakukan dengan tujuan agar lebih semangat dalam menjalani pekerjaan
rumah.” (Lizsa Anggraeny)
Kalau mau baca lengkapnya, silahkan tanya Om Google dengan mengetik ‘ibu rumah tangga’.
“Karena harus kau kerjakan, kenapa tidak kau buat menyenangkan?”
Itu kalimat Carnegie yang menyemangati banget. Saat udah mau bosan, please … smile J Ya, mari bersenang-senang bersama anak-anak, menaburkan mimpi-mimpi di kepala kanak-kanak mereka. Menyanyi, berdeklamasi, apa pun, yang penting hepi. Satu hal yang saya sukai banget dari mengasuh anak adalah: saya bebas main gila-gilaan ama mereka tanpa khawatir dianggap kurang waras sama tetangga. Anak nangis kenceng, saya nyanyi Indonesia Raya dengan suara yang lebih kenceng, misalnya. He he. Main barongan dengan musik mulut juga asyik tuh.
Untuk anak ketiga, saya sering bilang kalo 30 tahun ke depan dia akan jadi presiden Amerika. Maka, saya suka ngomong in English ke dia, meski sebisanya. He he.
Yang keempat, yang masih bayi, kalo nangis kan kenceng banget, saya bilang, ntar jadi Jendral ya. He he. Setiap anak saya buatkan lagu. Lagu itu berisi harapan (semoga menjadi doa) mengenai kiprah mereka di masa mendatang.
Sebagaimana semangat untuk memasak yang kerapkali bisa saya bangkitkan dengan cara membayangkan bagaimana hasil masakannya, maka … semangat dalam menemani tumbuh kembang anak juga saya bangkitkan dengan cara ‘membayangkan hasilnya’.
Ya, mungkin karena sejak kecil sudah baca bacaan yang cukup berat, jadi tahu betapa kompleksnya persoalan yang membelit negeri ini, kepikiran pengin mengubah tapi bingung harus dari mana, dengan cara apa … maka, kepada anak-anak lah saya berharap. Membaca atau menyaksikan kiprah orang-orang yang hebat penuh manfaat, yang penuh dedikasi kepada umat dan bangsa ini, saya membayangkan: insya Allah nanti anak-anak akan tumbuh menjadi generasi yang demikian. Amin amin amin.
Kalo bosan itu tetap saja datang, saya akan melawannya dengan terus membisikkan kesadaran bahwa jadi apa anak-anak itu nantinya tergantung dari apa yang saya ‘doktrinkan’ menit demi menit kepada mereka. So, daripada pikiran terbawa ngelamunin si bosan, mikir yang enggak-enggak, langsung aja raih buku, bacakan ke anak. Kalo anaknya nggak mau, ajak nyanyi atau sholawatan atau membaca bareng ayat-ayat Al Qur’an (juz amma) yang saya hapal, kadang ngobrol aja. Atau, ajak jalan-jalan, dengan nyanyi sepanjang jalan.
Tentu, pertolongan dan rahmat Allah di atas segala ikhtiar dan usaha manusia. But tapi namun, yang terpenting kan usaha maksimal then tawakal tho?
Hup! Ayo Bunda, melompat bangkit. Kalau hari-hari lalu masih sering merasa loyo, capek, sehingga rasanya sudah tidak mungkin lagi untuk mewujudkan cita-cita, menekuni hobi, me-refresh otak dengan membaca buku, dll … barangkali memang ada yang perlu dibenahi. Semoga sharing saya kali ini bisa membantu Bunda untuk menjalankan tugas keseharian nan mulia dengan lebih semangat dan … BAHAGIA!